Selasa, 05 April 2016

Menyaksikan Burung Cinderawasih Menari di Kampung Rhepang Muaif

Posted by Unknown on 05.31.00 with No comments
Menyaksikan Burung Cinderawasih Menari di Kampung Rhepang Muaif
 
JawaPos.com - Kampung Rhepang Muaif Distrik Nimbokrang Kabupaten Jayapura ternyata memiliki spot bird watching. Sayang  belum dikemas baik. Cendrawasih Pos (Jawa Pos Group) menelusuri jejak 'burung surga' atau disebut bird of paradise alias Burung Cenderawasih itu.

Tak puas hanya menyaksikan di Lapangan Katak, Putali Kabupaten Jayapura, spot lainnya yang juga tak kalah spechless adalah hutan di Kampung Rhepang Muaif Distrik Nimbokrang Kabupaten Jayapura.
Cenderawasih Pos akhirnya pada Sabtu (26/3) memilih menggunakan  kendaraan roda dua menuju Nimbokrang. Jalan yang berkelok dan lebih banyak rusak ini memaksa harus ekstra berhati-hati sebab banyak sekali ruas jalan yang sempit dan menikung.
Bila tak awas maka kendaraan lain dari arah berlawanan sewaktu-waktu akan muncul tiba-tiba. Waktu perjalanan dari Sentani menuju Nimbokrang sendiri memakan waktu sekitar satu setengah jam dengan kecepatan sedang.
Untuk menelusuri jejak 'burung surga' ini bisa dilakukan dengan dua pilihan. Pertama menginap ke kediaman sang leader atau mencari  rumah warga atau kenalan yang bisa dipakai untuk menumpang bermalam.
Untuk pilihan pertama pengunjung atau tamu bisa menginap di rumah Jamil, guide lokal yang ramah. Dengan biaya Rp 1 juta/orang, termasuk jasa penunjuk lokasi dan pemaparan soal spot bird waching hingga jenis-jenis burung yang bisa dilihat. 
Namun bila menggunakan pilihan kedua hanya cukup membayar jasa guide yang biasanya dipaketkan dengan seorang asisten. Untuk penginapan di Nimbokrang tentu para tamu juga harus menyesuaikan dengan keadaan karena tak ada kamar yang ber AC. Yang  ada hanya kipas angin dan kamar seadanya.
Pengunjung atau tamu juga disarankan untuk membawa  lotion anti nyamuk sebab  sore hari terkadang nyamuk mulai mengganggu. Cahaya penerangan juga masih terbatas, dan pengunjung yang biasa mengoperasikan laptop atau ipad juga disarankan membawa colokan kabel sendiri.
Untungnya seluruh wilayah Nimbokrang sudah bisa diakses sinyal sehingga sekalipun berada di dalam hutan, pengunjung bisa tetap mengupdate laporan atau data yang diperoleh termasuk foto-foto.
Jamil mengatakan, tamu yang datang bukan hanya dari lokal tetapi ada juga dari Korea, Amerika hingga India. Tujuannya hanya satu, mengabadikan keelokan burung Cenderawasih yang  kini terancam punah.
"Bahkan pernah ada wartawan National Geographic termasuk WWF pusat juga sudah datang kesini,” ceritanya.
Jamil meminta kami untuk berangkat subuh atau pukul 04.30 WIT sebab beberapa jenis burung seperti Cenderawasih Mati Kawat atau Seleucidis Melanoleuca atau yang awam orang sebut dengan Cenderawasih 12 Antena. Burung itu ada pagi buta karena jika matahari mulai terang akan berpindah tempat.
Kami akhirnya jam 05.00 WIT bertolak menuju spot yang disebutkan di Kampung Rhepang Muaif yang jaraknya hanya sekitar 3 Km dari tempat kami menginap. Setelah mobil diparkir di pinggir jalan, kami masuk ke lokasi yang dipimpin asisten Jamil, Alex Waisimon dan Marthen. 
ejatinya lokasinya juga tak jauh dari pinggir jalan karena hanya berjarak sekitar 400 meter ke dalam hutan.
Dengan cuaca yang masih gelap kami terus melaju dan akhirnya tiba di sebuat pondok yang terbuat dari daun kelapa kering berbentuk lancip.
Pondok inilah yang dipakai untuk mengintai sekaligus memotret Cenderawasih 12 Antena tadi. “Silahkan membidik karena tempatnya sudah kami siapkan,” ujar Alex sambil membuka celah daun.
Sayangnya beberapa detik sebelum kami memotret, burung betina dari cenderawasih 12 antena ini baru saja terbang menyisakan sang pejantan. Perasaan takjub sangat terasa sebab selama ini tak banyak yang bisa melihat langsung jenis burung yang seperti tak memiliki ekor itu.
Setelah puas kami pun bergeser ke spot burung cenderawasih kuning atau Paradisea Apoda yang posisinya lebih menanjak. Saat kami tiba terlihat jelas 3 ekor pejantan tengah menggoda sang betina untuk diajak kawin.
Di lokasi terdengar lebih berisik karena suara Cenderawasih kuning memang cukup melengking dan terus diulang-ulangi. Hanya saja tak mudah memang jika hanya menggunakan tele kamera seadanya apalagi jarak tempat burung ini bermain banyak ditutupi dedaunan dan terus meloncat ke sana kemari.
Di sini kami nongkrong hampir 1 jam karena harus menunggu Cenderawasih ekor kuning ini kembali ke tempatnya. Untungnya di tengah  perasaan jenuh tiba-tiba gerombolan kakak tua jambul kuning muncul dan bermain di ranting yang sangat terbuka.
Yang terekam kamera ada 7 ekor kakak tua jambul kuning yang bermain di pohon yang sama. Namun tak lama kemudian rombongan jambul kuning kembali berhamburan pergi. Lokasi terakhir yang kami datangi akhirnya menuju spot tempat bermain Cenderawasih Raja atau Cicinnurus Regius. 
Burung yang dijuluki permata hidup ini memang sangat menarik. Untuk jantannya berwarna merah terang dengan putih di bagian perut hingga kaki. Kakinya sendiri berwarna biru terang dan dibagian ekor terdapat dua helai seperti kawat yang ujungnya terdapat bulu yang berbentuk ulir.
“Mereka hanya bermain di pohon ini dan waktunya cukup lama sampai bertemu sang betina,” kata  Marthen yang menjadi leader.
Yang disampaikan ini benar sebab setelah beberapa menit menghilang, Cenderawasih Raja akhirnya kembali dan menggota sang betina. Caranya juga sangat unik, ia harus menarik perhatian sedemikian rupa mulai dari menari, berputar-putar hingga berpura-pura jatuh.
“Tujuannya hanya agar yang betina menghampirinya lalu mereka kawin,” beber Jamil.
Saat terjatuh ini Cenderawasih Raja biasa langsung menggantung di akar pohon hingga bisa  terlihat di posisi yang cukup rendah. Saat itulah bisa dibilang menjadi moment terbaik untuk mengabadikan gambar sebelum akhirnya pergi.
Menurut Jamil, dari aktifitasnya ini ia berharap pemerintah membuka mata bahwa ada potensi wisata yang bisa digarap lebih baik dan mendatangkan income bagi masyarakat tanpa harus membawa proposal dan terus berharap bantuan pemerintah.
“Sebelum semuanya hilang akibat bentuk perambahan dan perburuan. Saya dan teman-teman selama ini terus menjaga dan memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya keberadaan mereka dan jangan sampai punah,” imbuhnya. (abdel gamel naser/yuz/JPG) 

Sumber : http://www.jawapos.com/rubrik/destinasi



 
Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar