Seekor burung Cenderawasih Raja yang sempat ditemui di Distrik Nimbokrang, Minggu (27/3).
JawaPos.com - Kampung
Rhepang Muaif Distrik Nimbokrang Kabupaten Jayapura ternyata memiliki
spot bird watching. Sayang belum dikemas baik. Cendrawasih Pos (Jawa
Pos Group) menelusuri jejak 'burung surga' atau disebut bird of paradise
alias Burung Cenderawasih itu.
Tak puas hanya menyaksikan di
Lapangan Katak, Putali Kabupaten Jayapura, spot lainnya yang juga tak
kalah spechless adalah hutan di Kampung Rhepang Muaif Distrik Nimbokrang
Kabupaten Jayapura.
Cenderawasih Pos akhirnya pada Sabtu
(26/3) memilih menggunakan kendaraan roda dua menuju Nimbokrang. Jalan
yang berkelok dan lebih banyak rusak ini memaksa harus ekstra
berhati-hati sebab banyak sekali ruas jalan yang sempit dan menikung.
Bila tak awas maka kendaraan lain
dari arah berlawanan sewaktu-waktu akan muncul tiba-tiba. Waktu
perjalanan dari Sentani menuju Nimbokrang sendiri memakan waktu sekitar
satu setengah jam dengan kecepatan sedang.
Untuk menelusuri jejak 'burung
surga' ini bisa dilakukan dengan dua pilihan. Pertama menginap ke
kediaman sang leader atau mencari rumah warga atau kenalan yang bisa
dipakai untuk menumpang bermalam.
Untuk pilihan pertama pengunjung
atau tamu bisa menginap di rumah Jamil, guide lokal yang ramah. Dengan
biaya Rp 1 juta/orang, termasuk jasa penunjuk lokasi dan pemaparan soal
spot bird waching hingga jenis-jenis burung yang bisa dilihat.
Namun bila menggunakan pilihan kedua
hanya cukup membayar jasa guide yang biasanya dipaketkan dengan seorang
asisten. Untuk penginapan di Nimbokrang tentu para tamu juga harus
menyesuaikan dengan keadaan karena tak ada kamar yang ber AC. Yang ada
hanya kipas angin dan kamar seadanya.
Pengunjung atau tamu juga disarankan
untuk membawa lotion anti nyamuk sebab sore hari terkadang nyamuk
mulai mengganggu. Cahaya penerangan juga masih terbatas, dan pengunjung
yang biasa mengoperasikan laptop atau ipad juga disarankan membawa
colokan kabel sendiri.
Untungnya seluruh wilayah Nimbokrang
sudah bisa diakses sinyal sehingga sekalipun berada di dalam hutan,
pengunjung bisa tetap mengupdate laporan atau data yang diperoleh
termasuk foto-foto.
Jamil mengatakan, tamu yang datang
bukan hanya dari lokal tetapi ada juga dari Korea, Amerika hingga India.
Tujuannya hanya satu, mengabadikan keelokan burung Cenderawasih yang
kini terancam punah.
"Bahkan pernah ada wartawan National Geographic termasuk WWF pusat juga sudah datang kesini,” ceritanya.
Jamil meminta kami untuk berangkat
subuh atau pukul 04.30 WIT sebab beberapa jenis burung seperti
Cenderawasih Mati Kawat atau Seleucidis Melanoleuca atau yang awam orang
sebut dengan Cenderawasih 12 Antena. Burung itu ada pagi buta karena
jika matahari mulai terang akan berpindah tempat.
Kami akhirnya jam 05.00 WIT bertolak
menuju spot yang disebutkan di Kampung Rhepang Muaif yang jaraknya
hanya sekitar 3 Km dari tempat kami menginap. Setelah mobil diparkir di
pinggir jalan, kami masuk ke lokasi yang dipimpin asisten Jamil, Alex
Waisimon dan Marthen.
ejatinya lokasinya juga tak jauh dari pinggir jalan karena hanya berjarak sekitar 400 meter ke dalam hutan.
Dengan cuaca yang masih gelap kami terus melaju dan akhirnya tiba di sebuat pondok yang terbuat dari daun kelapa kering berbentuk lancip.
Dengan cuaca yang masih gelap kami terus melaju dan akhirnya tiba di sebuat pondok yang terbuat dari daun kelapa kering berbentuk lancip.
Pondok inilah yang dipakai untuk
mengintai sekaligus memotret Cenderawasih 12 Antena tadi. “Silahkan
membidik karena tempatnya sudah kami siapkan,” ujar Alex sambil membuka
celah daun.
Sayangnya beberapa detik sebelum
kami memotret, burung betina dari cenderawasih 12 antena ini baru saja
terbang menyisakan sang pejantan. Perasaan takjub sangat terasa sebab
selama ini tak banyak yang bisa melihat langsung jenis burung yang
seperti tak memiliki ekor itu.
Setelah puas kami pun bergeser ke
spot burung cenderawasih kuning atau Paradisea Apoda yang posisinya
lebih menanjak. Saat kami tiba terlihat jelas 3 ekor pejantan tengah
menggoda sang betina untuk diajak kawin.
Di lokasi terdengar lebih berisik
karena suara Cenderawasih kuning memang cukup melengking dan terus
diulang-ulangi. Hanya saja tak mudah memang jika hanya menggunakan tele
kamera seadanya apalagi jarak tempat burung ini bermain banyak ditutupi
dedaunan dan terus meloncat ke sana kemari.
Di sini kami nongkrong hampir 1 jam
karena harus menunggu Cenderawasih ekor kuning ini kembali ke tempatnya.
Untungnya di tengah perasaan jenuh tiba-tiba gerombolan kakak tua
jambul kuning muncul dan bermain di ranting yang sangat terbuka.
Yang terekam kamera ada 7 ekor kakak
tua jambul kuning yang bermain di pohon yang sama. Namun tak lama
kemudian rombongan jambul kuning kembali berhamburan pergi. Lokasi
terakhir yang kami datangi akhirnya menuju spot tempat bermain
Cenderawasih Raja atau Cicinnurus Regius.
Burung yang dijuluki permata hidup ini
memang sangat menarik. Untuk jantannya berwarna merah terang dengan
putih di bagian perut hingga kaki. Kakinya sendiri berwarna biru terang
dan dibagian ekor terdapat dua helai seperti kawat yang ujungnya
terdapat bulu yang berbentuk ulir.
“Mereka hanya bermain di pohon ini dan waktunya cukup lama sampai bertemu sang betina,” kata Marthen yang menjadi leader.
Yang disampaikan ini benar sebab
setelah beberapa menit menghilang, Cenderawasih Raja akhirnya kembali
dan menggota sang betina. Caranya juga sangat unik, ia harus menarik
perhatian sedemikian rupa mulai dari menari, berputar-putar hingga
berpura-pura jatuh.
“Tujuannya hanya agar yang betina menghampirinya lalu mereka kawin,” beber Jamil.
Saat terjatuh ini Cenderawasih Raja
biasa langsung menggantung di akar pohon hingga bisa terlihat di posisi
yang cukup rendah. Saat itulah bisa dibilang menjadi moment terbaik
untuk mengabadikan gambar sebelum akhirnya pergi.
Menurut Jamil, dari aktifitasnya ini
ia berharap pemerintah membuka mata bahwa ada potensi wisata yang bisa
digarap lebih baik dan mendatangkan income bagi masyarakat tanpa harus
membawa proposal dan terus berharap bantuan pemerintah.
“Sebelum semuanya hilang akibat
bentuk perambahan dan perburuan. Saya dan teman-teman selama ini terus
menjaga dan memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya keberadaan
mereka dan jangan sampai punah,” imbuhnya. (abdel gamel naser/yuz/JPG)
Sumber : http://www.jawapos.com/rubrik/destinasi

0 komentar:
Posting Komentar