Fahri Hamzah
JawaPos.com - Pemecatan
Fahri Hamzah dari keanggotaannya di Partai Keadilan Sejahterah (PKS)
ternyata hasil dari sentimen pribadi Sohibul Iman yang merupakan
pimpinannya sendiri.
Hal itu diungkapkan Fahri saat menggelar konferensi pers di DPR, Senayan, Jakarta.
Ia menceritakan, sekitar September
ketika Sohibul menjadi pimpinan baru PKS, ia diundang untuk berdialog.
Di situ disampaikanlah keinginan Sohibul sebagai presiden PKS.
"Tentu saya dengar. Salah satunya
beliau sarankan saya pakai kopiah. Saya ikuti, ternyata ganteng juga
pakai kopiah," ucapnya mencairkan ketegangan.
Nah, setelah itu, Sohibul memintanya untuk bertemu kembali. "Dan diminta mundur (dari wakil ketua DPR), tentu buat saya kaget dan ada apa gerangan," ungkap Fahri.
Nah, setelah itu, Sohibul memintanya untuk bertemu kembali. "Dan diminta mundur (dari wakil ketua DPR), tentu buat saya kaget dan ada apa gerangan," ungkap Fahri.
Ia bertanya-tanya dengan permintaan
Sohibul kala itu. "Lalu beliau katakan ini permintaan pribadi antara
saya dengan beliau karena beliau pemimpin tertinggi di dalam partai.
Saya katakan baiklah karena rahasia pribadi," ungkap Fahri.
Namun, ia mengaku kala itu meminta
waktu untuk memutuskan apakah akan mundur atau tidak sebagai pimpinan
DPR. Sebab, yang dimintakan adalah jabatan publik.
Jelas, saat pemilihannya sebagai wakil
ketua DPR melibatkan konstituen yang besar di paripurna dan nyatanya ia
mendapatkan suara tertinggi di PKS untuk melangkah ke Senayan.
"Masalahnya jabatan ini milik publik,
milik negara. Saya bilang kalau saya sudah mantab, semua keputusan saya
ambil. Karena itu saya minta waktu, saya dikasih waktu," bebernya.
Belum juga adanya putusan Fahri untuk
mengundurkan diri, tiba-tiba ada pengaduan tentang dirinya kepada Badan
Penegak Disiplin Organisasi (BPDO). Dia diadukan lantaran dianggap
mengeluarkan pernyataan kontroversial dan kontraproduktif di ranah
publik yang tidak sejalan dengan arahan partai.
Tentu, mantan anggota Komisi III DPR
itu menyangsikan alasan pengaduan tersebut. Sebab, apa yang disampaikan
ke publik yang kerap dengan nada keras dan kritis merupakan adat
ketimurannya sejak lahir.
Apalagi, sebagai anggota DPR, ia dilindungi undang-undang untuk menyatakan atau berbicara soal pendapatnya di ranah publik.
Karena itu, ia menegaskan ini bukanlah persoalan partai sehingga ada pemecatan melalui sebuah surat DPP PKS kemarin. "Ini permintaan pribadi, saya tisak melihat masalah partai di sini," serunya.
Karena itu, ia menegaskan ini bukanlah persoalan partai sehingga ada pemecatan melalui sebuah surat DPP PKS kemarin. "Ini permintaan pribadi, saya tisak melihat masalah partai di sini," serunya.
Fahri menambahkan, sentimen pribadi
itu muncul sejak Sohibul menjadi presiden PKS. Terbukti, sejak
kepemimpinan baru, dirinya dilepas dari struktur kepartaian setelah
dirinya selalu mendaoat porsi di kepengurusan.
Namun, Sohibuk katanya beralasan untuk tidak rangkap jabatan.
"Saya tenang (dengan alasan itu). Tapi sekarang, ini tiba-tiba mau
dihabisi sehabis-habisnya. Ini ada apa," tutup Fahri dengan pertanyaan
besar. (dna/JPG)
Sumber : http://www.jawapos.com/

0 komentar:
Posting Komentar